Prolog

| Ricki Bradan

Malam yang cukup dingin di musim panas di Swords, kota pinggiran dari ibukota Dublin. Hari sudah hampir pagi, namun aku masih bisa mendengar beberapa suara pesawat terbang yang lalu-lalang di atas kepalaku. Sudah sepuluh menit aku menanti. Dari kejauhan terlihat seorang pria berjaket pirus yang sedang melambaikan tangannya ke arahku, memberikan sinyal agar aku masuk ke dalam sebuah ruangan kecil yang berada di sebelah rumah berdinding cokelat muda. Pria itu berlari kecil menghampiriku.

“Sudah lama kau di sini, eh?” tanyanya dengan nafas terengah-engah. Wajahnya kusam dan tidak terawat.

“Tidak juga,” jawabku, “Di mana James dan yang lainnya?” Ia hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu, kemudian membuka pintu ruangan tersebut perlahan.

Namaku Ricki Bradan, dan pria luntang-lantung tersebut adalah temanku sejak kecil, Ronan. Orang tuanya merupakan penganut Katolik yang taat dan mereka menendangnya keluar rumah beberapa minggu lalu setelah mereka menemukan heroin di kamarnya. Sulit bagiku untuk mengingat kembali waktu tatkala ia hanyalah seorang anak sebelah- rumah yang bersemangat dengan banyak mimpi. Wajah latifnya kini terkubur oleh pipi cekung dan kantung mata yang kusam.

Saat ini, aku memasuki tahun keduaku belajar di sebuah kolese kecil di Dublin. Sebenarnya aku tidaklah sebiasa itu. Aku tahu ini akan sulit untuk dipercaya, namun aku pernah diterima di universitas-universitas terbaik di Amerika Serikat dan Kerajaan Inggris Raya. Terhitung ada sembilan universitas dan sekolah tinggi yang menerimaku, dan sebagian besar dari mereka bahkan menawarkan beasiswa dan hibah-hibah yang nilainya tidak pernah bisa kubayangkan sebelumnya.

Aku ingat betul saat aku mendapat surat penerimaan ketujuhku dan membacanya, hari di mana aku melihat Da1 untuk terakhir kalinya. Dia telah pergi meninggalkanku, Ma2, dan Conor yang saat itu baru SMP tahun kedua, begitu saja tanpa alasan yang jelas. Di saat itu pula aku memutuskan untuk mengubur mimpi-mimpiku sedalam-dalamnya. Aku tidak bisa meninggalkan Ma sendirian, ia sangat membutuhkanku. Aku juga tidak mau adikku satu-satunya tumbuh tanpa figur seorang laki-laki dewasa. Mereka adalah segalanya bagiku.

Orang-orang bilang aku bodoh dan tidak tahu diuntung, mereka hanya tidak mengerti. Terkadang aku ingin mereka tahu apa yang terjadi, namun aku berpikir lagi, mereka tidak layak untuk mengetahuinya.

Aku juga tidaklah seistimewa itu. Aku selalu memiliki kesulitan belajar sejak SMP di hampir setiap mata pelajaran, dan karena hal itu pula teman-temanku tidak jarang merundungku, secara fisik maupun psikis. Aku sendirian, bahkan para kutu buku dan garib memiliki komunitas, aku tidak. Aku berada di kasta sosial terendah.

Guru fisikaku pada saat itu pernah tidak mengizinkanku menghadiri kelasnya selama musim gugur dengan alasan ‘tidak memenuhi syarat’, yang juga menunjukkan betapa buruknya sistem pendidikan formal di sini. Hingga suatu ketika, aku benar-benar merasa berada di titik terjenuh, sehingga kertas-kertas ujian matematika yang seharusnya dikerjakan malah kuubah menjadi seekor burung bangau dan pada saat ini juga, si pengawas ujian membawaku ke konselor sekolah. Sejak saat itulah aku tahu, aku berbeda. Sejak saat itulah aku mulai berpikir untuk melakukan sesuatu yang setidaknya bisa membuatku lepas. Aku memulainya dengan musik. Sejak kecil aku piawai bermain piano, dan sekarang aku juga mahir dalam gitar dan peluit timah khas Irlandia. Memulai memang hal yang sulit, namun aku terus melakukannya. Seiring waktu, aku tidak lagi melihat kekuranganku sebagai penghalang besar untuk bermimpi, melainkan sebuah anugerah yang memungkinkanku bekerja lebih keras dari yang lain. Mimpi harus diperjuangkan, bukan?

Masa laluku telah memperlihatkanku satu hal, bahwa hampir semua orang adalah bajingan yang sama sekali tidak dapat dipercaya. Bagaimana dengan James, Ronan, dan Aoife? Aku tahu, mereka bukanlah orang-orang yang pantas dipanggil ‘teman’. Mereka hanyalah pecandu berat obat-obatan tanpa masa depan. Namun dari mereka aku belajar banyak hal. Mereka mengajariku bahwa kehidupan adalah rasa sakit, hanya orang-orang mati yang tidak bisa merasakannya.

Ya, masalah-masalah kehidupan tersebut merupakan esensi dari kehidupan itu sendiri. Mengutip Benjamin Franklin, “Banyak orang meninggal pada usia dua puluh lima, dan tidak dikubur sampai mereka tujuh puluh lima.” Banyak orang menyia-nyiakan lima puluh tahun dari hidupnya terjebak dalam rutinitas, sebuah eksistensi tanpa mimpi dan renjana, tanpa tujuan dan aku takut hal itu akan terjadi kepadaku suatu hari nanti.

“Hei, sedang memfantasikan apa kau? Claire?” tanya Ronan membuyarkan lamunan panjangku. Aku melihat James dan Aoife yang sedang teler saling memadu kasih di pojok ruangan. Kuteguk Smithwick’s di tanganku.

“Bisa saja kau. Aku hanya memikirkan… sesuatu. Sampai kapan kau akan terus-menerus seperti ini? Tidakkah kau memiliki sebuah mimpi atau semacamnya?” jawabku, mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Ia mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruangan.

“Aku benar-benar tidak tahu, bung. Seorang guru, mungkin? Seperti Ma… tapi kedengarannya tidak mungkin. Maksudku, lihatlah! Aku lebih suka mendengar milikmu. Kau satu-satunya orang yang memilikinya di sini,” katanya dengan nada pesimistis. Mungkin saja jika aku menanyakan hal yang sama beberapa bulan yang lalu, ia akan menjawabnya dengan penuh percaya diri. Aku sedih ia harus kehilangan semuanya, dalam waktu yang singkat.

“Menurutmu, apakah aku masih terlihat seperti seorang musisi?” tanyaku setengah bercanda, mencoba menyita perhatiannya.

“Aku akan menjadi pengunjung pertama di konser pertamamu kalau begitu,” jawabnya ringan.

“Ha! Aku hanya bergurau,” ujarku.

“Tidak ada yang salah dengan hal itu. Aku tahu belakangan ini benar-benar sulit bagimu. Tapi aku ingin kau tahu bahwa kami semua akan selalu mendukungmu,” tambahnya lagi sambil menepuk pundakku, kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan plastik kecil berisi bubuk heroin. Ia bangkit menghampiri meja dan menaruh bubuk tersebut ke sebuah sendok makan dan mencampurnya dengan alkohol.

“Apa-apaan! Apa kau sinting?!” teriakku kepadanya.

“Hari yang berat, bung.” jawabnya singkat, lalu mendengus pelan.

“Katakan padaku kau sudah pernah melakukan ini sebelumnya!” Kuhardiknya lagi penuh keresahan.

“Hei, santai! Aku sering menggunakannya dalam keadaan mabuk. Apa bedanya?” Ia mencoba berargumen.

“Teramat sangat sialan bedanya,” umpatku, tidak puas akan jawaban yang ia berikan. Ia tidak membalas umpatanku untuk menghindari argumen yang berkepanjangan.

“Kau tidak dalam perawatan ADHD3-mu lagi?” tanyanya memecah keheningan sambil melanjutkan racikannya.

“Untuk apa? Itu sudah dua tahun yang lalu. Ma tidak mampu lagi membayarnya,” kataku.

“Bukan apa-apa. Lagipula amfetamin stimulanmu itu sampah.”

Kemudian ia menyuntikkan campuran alkohol dan heroin tersebut melalui urat pembuluh di lengan kirinya. Ia mengerang pelan dan matanya terpejam, lalu terdiam menikmati halusinasi temporer yang disebabkan oleh campuran obat keras itu.

“Sehancur-hancurnya kau dan hidupmu, jangan pernah melakukan ini,” katanya sok bijak, lalu perlahan ia menyeret langkahnya dan pergi.

Persetan dengan hidupmu, timpalku dalam hati. Kendati begitu aku mengagumi Ronan, begitu juga Aoife dan yang lainnya. Mereka tidak pernah sekalipun mencoba atau berniat untuk menjerumuskanku. James pernah menawarkan lintingan ganja kepadaku beberapa minggu lalu, tapi kurasa ganja bukanlah obat keras.

“Selamat bersenang-senang, pemalas,” ujarku sinis.

Aku melirik arlojiku, sudah hampir setengah dua pagi. Aku harus menjemput Ma. Giliran malamnya akan berakhir pukul dua nanti.

“Oi, ke mana si keparat itu pergi?!” teriak James.

“Mana kutahu,” kataku singkat.

Aku bangkit dan mengambil ranselku yang berada di permukaan meja kayu tua. Kulihat James sedang mencari sesuatu.

“Sial! Beraninya si brengsek itu menghabiskan jatahku!” umpatnya. Aku tidak meresponnya.

“Aku akan pulang. Jaga si kepala titit ini baik-baik,” pesanku kepada Aoife sebelum keluar dari ruangan tersebut. Aoife mengacungkan jempolnya tanpa menoleh ke arahku. Lalu aku pergi keluar dan mencari Ronan.

Tak berapa lama, aku mendengar sesuatu… sebuah suara, dan suara itu berasal dari balik tumpukan kayu.

“Astaga!” Aku berteriak histeris begitu melihat sosok Ronan yang tergeletak tak berdaya di lantai. Kedua kakinya terbujur kaku. Tubuhnya kejang-kejang hebat.

“Hei! Kau baik-baik saja?! Ronan,” teriakku cemas. Tidak ada respon darinya. Wajahnya sangat pucat dan kuku-kuku jarinya membiru. Ada bekas muntah di sampingnya.

“Sialan! James, Aoife! Cepat ke sini!” teriakku, namun mereka tidak menjawab sama sekali. Aku mencoba menenangkan diriku dan tidak panik. Napas Ronan melambat secara signifikan dan mungkin akan berhenti dalam beberapa saat.

“Aku sudah memberitahumu, tolol!” cercaku kasar. Aku dongkol bukan main.

“James! Cepat kau ke sini!” panggilku lagi.

Seketika terdengar suara pintu yang sedang dibuka.

“Ada apa s─R-Ronan?!” kata James begitu melihat Ronan yang tergeletak di lantai. Dia terlihat sangat panik.

“Overdosis! Hubungi 999 sekarang!” perintahnya. Aku segera mengeluarkan ponselku dan menekan tombol 999. Tanganku sedikit bergemetar, menunggu jawaban dari panggilan tersebut.

Layanan darurat 999. Ada yang bisa kami bantu?” Terdengar suara wanita yang terhubung melalui ponselku.

“Seseorang terbujur kaku di sini! Tolong segera kirim mobil ambulans sekarang!” jawabku tidak sabaran. Aku benar-benar terbawa situasi.

Baiklah. Harap tenang, Tuan. Ceritakanlah apa yang terjadi,” kata wanita itu.

“Temanku, dia overdosis heroin. Ia tidak bergerak sama sekali. Tolong panggilkan ambulans!”

Baiklah. Di mana Anda berada saat ini?

“Belcamp Avenue. Cepatlah, dia sekarat!”

Apakah ia masih bernapas sekarang?” tanyanya.

“Dia masih bernapas beberapa waktu lalu, sangat lambat. Aku tidak tahu sekarang. Cepatlah!” isakku.

Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

Baiklah. Ambulans akan tiba sebentar lagi. Apakah di sekitar Anda terdapat nalokson atau sejenisnya?

“Tidak ada,” jawabku jengkel.

Apakah ada apotek di sekitar Anda?

“Kau pikir?! Cepatlah! Dia sekarat!”

Mohon bersabar, Tuan. Apakah ia masih bernapas?

“Napasnya melambat.”

Sekarang, tolong beritahuku setiap kali ia bernapas. Bisakah Anda melakukannya, Tuan?” perintahnya.

“Baiklah…” jawabku singkat.

“Ia bernapas sekarang!” seruku kepadanya.

Teruslah berhitung sampai ambulans tiba.”

Aku mengikuti perintahnya.

“James, bisakah kau beritahu Aoife untuk menjemput ibuku sekarang? Tolonglah,” pintaku kepada James. Ia mengangguk dan segera berlari ke dalam ruangan dan memanggil Aoife.

Tak berapa lama kemudian, mereka berdua berdiri tepat di depanku.

“Oh tidak…,” ucap Aoife kelu saat ia menemukan Ronan sedang dalam kondisi sangat kritis.

“Kau jaga dia. Aku pergi sekarang,” pamitnya dengan nada gemetar. Kulemparkan kunci mobilku kepadanya dan ia segera menyambarnya secepat kilat.

Beberapa menit kemudian terdengar suara nyaring sirine ambulans dari kejauhan. Napas Ronan sudah tidak terdengar lagi, namun aku meyakinkan diriku bahwa ia masih di sini. Bertahanlah, kawan. Batinku dalam hati.

“Ambulans sudah datang…”

Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, tiba-tiba seorang petugas berseragam mengambil ponselku.

“Kami di lokasi,” katanya kepada wanita itu. Ia menutup panggilan tersebut dan mengembalikan ponsel tersebut kepadaku. Mereka lalu menghampiri Ronan dan memeriksanya selama beberapa saat.

“Maafkan aku, tapi dia sudah tiada. Kita terlambat,” ujar salah satu dari mereka. Aku terdiam, bungkam tanpa sepatah kata sekalipun. Aku menatap James yang sama bisunya denganku. Mereka menggotong tubuh Ronan ke dalam ambulans dan pergi.

Ronan, pria luntang-lantung itu telah pergi untuk selamanya. []


< Beranda | Selanjutnya >


  • 1 Panggilan kolokial untuk ‘ayah’ di Irlandia
  • 2 Panggilan kolokial untuk ‘ibu’ di Irlandia
  • 3 Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)