2013: September

| Ryan Jameson

Bagi sebagian besar penghuni Kota Salt Lake, Utah, cuaca hari ini merupakan mimpi buruk di awal musim gugur, namun tidak bagiku. Hari ini mungkin adalah hari tercerah dalam hidupku setelah wisuda SMA tahun lalu. Panggilan misiku datang pagi ini namun ibu belum mengizinkanku membukanya sebelum Amanda dan anggota keluarga lainnya datang. Ia bahkan tidak mengizinkanku memegangnya barang sedetikpun. Huh, penasaran aku dibuatnya.

Namaku Ryan Jameson. Aku terlahir dan dibesarkan di keluarga penganut Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir 1yang bahagia. Kalian biasanya memanggil kami orang-orang Mormon. Dalam ajaran Orang-Orang Suci Zaman Akhir, pemuda-pemudi sepertiku didorong untuk melakukan misi selama dua tahun untuk memberitakan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Joseph Smith─nabi kami yang kami cintai, melalui Kitab Mormon kepada sesama umat manusia di berbagai penjuru dunia. Kami menyebut masa-masa tersebut sebagai ‘dua tahun terbaik’.

Kakak perempuanku, Amanda telah menjalani misinya empat tahun lalu di Washington, D.C., yang tak henti-hentinya ia bicarakan selama berbulan-bulan, sampai seorang pria yang sekarang menjadi kakak iparku menikah dengannya dan pada akhirnya dia berhenti bercerita (jangan tanya bagaimana dia melakukannya). Bagaimana denganku? Ke mana aku akan pergi untuk misiku? Alabama? Membosankan. New York? Bukan seleraku. Jepang? Romania?

“Apakah kau siap, Ryan?” Ucapan ayah membuyarkan lamunanku.

“Amanda sudah datang, yah?” Aku berbalik tanya. Ayah mengangguk, lalu memberi isyarat agar aku segera keluar dan menemui kakakku.

“Ryan-ku yang manis! Aku sudah tak sabar sekali!” ujar Amanda sembari memelukku.

Huh, akulah yang seharusnya berkata seperti itu. Ibu lalu memberikan surat panggilan misiku beserta sebuah gunting. Ini adalah kali pertamaku memegangnya, dan juga terakhir. Aku menghirup nafas dalam, jujur aku sedikit gugup karena ini merupakan salah satu momentum bersejarah dalam hidupku. Dalam beberapa detik ke depan, aku akan mengetahui di mana aku akan menghabiskan dua tahun berdakwah dan melakukan kegiatan kemanusiaan. Aku menggunting bagian atas amplop itu perlahan-lahan, kemudian kukeluarkan isinya. Kutarik nafas dalam sekali lagi, dan kupejamkan mataku sejenak.

Yang terkasih, Penetua Ryan Jameson,

Aku membaca kalimat pertama. Kupandang wajah ibu yang tersenyum hangat penuh cinta dan kebahagiaan. Wajah yang sama terlihat di wajah ayah, namun berbanding terbalik dengan teman-temanku yang terlihat tegang dan penasaran. Russell bahkan menutup kedua telinganya.

“―dengan ini Anda dipanggil untuk mengabdikan diri sebagai seorang misionaris Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir. Diantisipasi bahwa Anda akan mengabdi untuk jangka waktu 24 bulan, dan Anda ditugaskan untuk bekerja dalam Misi…” Aku terdiam sejenak dan menatap keramaian.

…Misi Kamboja–Phnom Penh.” Sorak-sorai pun menggema, Amanda teriak. Tuhan, Kamboja benar-benar jauh di luar dugaanku.

“Selamat, kawan! Kudengar tarantula goreng sangat populer,” kata John.

“Wow, aku tidak sabar, John,” timpalku dengan nada sedikit sarkastis. Aku melanjutkan membaca.

Anda diminta untuk melaporkan diri ke Pusat Pelatihan Misionaris Provo pada 6 November 2013. Anda akan memberitakan Injil dalam bahasa Khmer…

Tanpa kusadari, air mataku terjatuh di pipiku. Ini adalah momentum awal dari ‘dua tahun terbaik’-ku. Dalam beberapa minggu ke depan aku akan hidup dan tinggal di sisi lain dunia, berbicara dalam bahasa asing yang belum pernah kuketahui sebelumnya, dan mengabdikan diriku untuk Tuhan.

Teman-temanku menghampiriku dan memberi selamat. John, Emma, Russell, mereka semua adalah yang terbaik dan kita akan meninggalkan satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Sungguh berat rasanya. Begitu juga dengan keluargaku, ayah, ibu, Amanda… Ah, sungguh tidak adil rasanya untuk memikirkan hal tersebut di saat seperti ini.

“Meski tak sesuai dugaanku, tapi aku gembira sekali mendengarnya. Mereka beruntung mendapatkanmu,” ujar Michael. Kata-kata tersebut setidaknya membuatku merasa sedikit lebih baik.

“Rasa senangku lebih besar dari rasa iriku,” tambah Amanda sambil mengernyitkan dahinya. Aku tertawa.

“Kau tahu? D.C. itu jauh lebih keren dari yang kau kira,” celetuk Emma dengan wajah agak masam. Emma mendapatkan panggilan misinya tiga hari yang lalu, dan dia akan menjalani Misi Washington, D.C. seperti Amanda. Jadi, aku rasa dia sedang mencoba menghibur dirinya sendiri.

Aku mengangguk tanda setuju. D.C. tidaklah sebegitu buruk. Walau tentu saja, Asia Tenggara jauh lebih eksotis dan menantang.

“Aku bercanda, Emma. Aku sangat, sangat menyukai misiku.” Amanda mencoba menebus kesalahannya.

“Jadi kau akan ke D.C.?” tanya Michael. Emma menggangguk.

“Bagaimana denganmu, Russell? John?”

“Amerika Selatan! Misi Chile-Santiago lebih tepatnya,” jawab Russell dengan antusiasme yang tinggi.

“Panggilan misiku belum datang. Tapi kuharap itu Florida, atau paling tidak Kanada. Yah, aku memiliki masalah dalam beradaptasi. Kita lihat saja minggu depan,” kata John.

“Atau Kerajaan Tonga.” Russell menambahkan. Yang lain pun tertawa. “John Terkasih…” tambahnya lagi, sambil meniru salah satu adegan dari The Other Side of Heaven, sebuah film yang menceritakan tentang petualangan seorang misionaris Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir bernama John Gilbert, anak petani dari Idaho Falls, Idaho, yang ditugaskan di Kerajaan Tonga selama dua setengah tahun. Aku tak kuasa menahan tawa. []

Hari semakin sore dan gelap. Russell, Emma dan teman-temanku yang lain sudah pulang, hanya John yang masih di sini karena aku mengajaknya bermain Xbox hingga larut malam, kebiasaan yang dulu sering kami lakukan pada waktu SMA saat libur musim panas tiba, setidaknya dua kali seminggu. Sekarang John dan aku belajar di sekolah yang sama, Universitas Brigham Young, sebuah universitas yang didirikan dan dioperasikan oleh gereja kami, yang terletak di Provo, Utah.

Sekilas aku memang terlihat klise. Seorang penganut Orang-Orang Suci Zaman Akhir yang lahir dan besar di Kota Salt Lake, Utah, menuntut ilmu di Universitas Brigham Young, dan sebagainya. Namun sebenarnya ada satu hal tentangku yang benar-benar tidak terbayangkan, dan tidak seorang pun tahu akan hal itu. Sudah kusimpan rapi semuanya selama bertahun-tahun dalam kepura-puraan. Aku tahu betul, jika seseorang mengetahuinya, semua tidak akan sama lagi. Aku takut suatu hari nanti akan tiba saat di mana aku harus berhenti berpura-pura.

“Kau siap?” tanya John.

“Selalu,” jawabku sekenanya.

“Kalau begitu, bersiaplah untuk merengek seperti bayi, kawan,” ujarnya penuh percaya diri.

“Bicara sesukamu, Johnny,” kataku seadanya. Lalu kami larut dalam suasana. Benar-benar hari yang indah bagi seorang Ryan Dean Jameson. Sungguh besar kasih yang Bapa Surgawi anugerahkan kepada umatnya yang percaya kepada Injil yang dipulihkan dan dalam beberapa minggu ke depan, aku akan memberitakan kabar baik ini kepada orang-orang di Kamboja. Di sela-sela permainan, kuucapkan kesaksianku pelan. Kitab Mormon adalah nyata adanya. Aku tahu Yesus Kristus hidup, dan Dia mati untuk menebus dosa-dosa kita sehingga kita bisa menjalani kehidupan sekarang dengan penuh suka cita. Aku tahu Nabi Joseph Smith bertemu dengan Bapa Surgawi dan anak-Nya, kemudian dia bertanya gereja mana yang benar dan Mereka menjawab ‘tidak ada’. Dan aku bersaksi kepada hal-hal tersebut dalam nama Yesus Kristus. Amin. []


<< Sebelumnya | Beranda | Selanjutnya >>


1 The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints. Gereja restorasi non-trinitarian