2013: Oktober

| Ricki Bradan

Sudah hampir dua bulan sejak kepergian Ronan, namun aku masih membiarkan diriku terlarut dalam duka yang mendalam. Tadi pagi aku menerima surat panggilan kedua dari kolese karena sudah enam hari aku tak menampakkan diri. Ironinya, kolese baru saja dimulai dua minggu lalu dan rencanaku untuk membangun masa depanku dari bangku kuliah kini hancur berantakan. Aku bahkan tidak tahu seberapa banyak aku kehilangan berat badanku, tapi aku merasakannya. Aku merasakan kedua lenganku yang perlahan mengecil, dan bahu bidangku yang menyempit. Kepergian Ronan telah mengubahku, kepribadianku, segalanya.

Aku sempat bertemu Tuan dan Nyonya Furlong beberapa waktu lalu. Mereka masih saja menyalahkanku atas apa yang telah terjadi, dan bahwa akulah segalanya di balik semua ini. Andai saja mereka mengetahui apa yang Ronan telah lalui selama ini dan andai saja mereka mengetahui apa yang kurasakan saat ini.

Berminggu-minggu aku hanya mengurung diri. Sesekali aku keluar untuk keperluan kolese, itu pun kalau bukan Ma yang menyuruhku. Dia bekerja hingga larut, enam hari seminggu untuk membiayai kuliahku, biaya sekolah Conor, dan keperluan sehari-hari. Aku tahu ia sangat lelah, aku melihat sorotan matanya yang meredup. Aku terjebak. Aku sangat prihatin terhadapnya. Namun, aku belum mampu mengalihkan rasa kehilanganku, aku tidak yakin aku bisa.

Bicara soal Ma, aku belum melihatnya sejak makan malam kemarin. Jangan-jangan ia mengambil giliran malam lagi.

“Conor, Ma di mana?” tanyaku begitu melihat Conor yang sedang membuka lemari es.

“Eh, kau mengagetkan saja. Dia mengambil giliran malam dan siang sekaligus dan kurasa dia baru akan pulang sore nanti. Ma tidak memberitahumu?” jawabnya. Aku menggelengkan kepala. Dugaanku tidak meleset.

Ia menutup lemari es dan tak menemukan apapun di dalamnya. Kemudian ia menghampiriku.

“Ngomong-ngomong, di mana sarapan untuk hari ini?” tanyanya.

“Sarapan? Sudah hampir jam dua belas ini! Dari mana saja kau?” kataku. Wajah Conor berubah gugup.

“Aku? Umm… Lupakan saja. Lagipula aku tidak begitu lapar. Dah,” jawabnya terbata-bata. Aku yakin betul ia belum makan sejak semalam. Ia berbohong. Tak biasanya ia bertingkah seperti itu. Lalu ia pergi dengan tergesa-gesa, namun aku mencegahnya.

“Tunggu. Kau mau apa? Aku mungkin akan keluar sebentar. Nanti kubawakan sesuatu,” tanyaku lagi.

“Apa saja. Trims, ya,” jawab Conor singkat.

Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya. Ia seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Aku bangkit dari kursi dan berjalan menuju kamarku. Kuambil sweter biru tua dari dalam lemari, dan beberapa keping antasida dari kotak obat, lalu keluar. Kulihat pintu kamar Conor sedikit terbuka. Ada baiknya aku bertanya.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku.

Ia segera melepas alat pendengar yang ada di telinga kanannya.

“Aku baik-baik saja. Ada apa?” Ia berbalik bertanya.

“Memeriksa saja,” jawabku sekenanya.

“Baiklah. Aku pergi dulu. Kalau kau butuh sesuatu, beritahu aku.”

“Hati-hati,” pesannya. Lalu aku berjalan keluar.

Udara di luar lumayan sejuk dan berangin, namun aku masih bisa merasakan sedikit kehangatan cahaya matahari yang mengintip dari balik awan-awan. Aku sengaja memperlambat langkahku dan membiarkan cahaya tersebut menerpa wajahku. Di saat-saat seperti ini memang seharusnya aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah karena efektivitas matahari sebagai sumber antidepresan terbaik tak dapat diragukan lagi.

Setibanya di halte bus, aku mengeluarkan beberapa uang logam dan memasukkannya ke mesin tiket. Delapan menit kemudian bus yang akan kutumpangi datang. Aku segera duduk di kursi yang terletak di baris keempat dekat jendela. Suasana di dalam cukup sepi. Kulihat hanya ada aku dan enam penumpang lainnya yang sebagian besar merupakan para lanjut usia. Tidak satupun dari mereka berbicara satu sama lain.

Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, bus berhenti tepat di depan Pemakaman Dardistown. Ini pertama kalinya aku berkunjung ke makam Ronan sejak kepergiannya. Sejujurnya aku agak gugup. Tapi mau tidak mau, siap tidak siap, aku harus melakukannya. Aku menghela nafas, kuberanikan diri untuk melangkah masuk ke area pemakaman dan mulai mencari. Tak sulit menemukannya. Terdapat batu nisan setinggi kurang lebih satu setengah meter di pusara makam yang bertuliskan:

DI SINI BERISTIRAHAT DENGAN TENANG
RONAN MATTHEW FURLONG
12 MEI 1994 – 14 JULI 2013

Kudekati pusara tersebut dan memegangnya. Kupejamkan mataku sejenak, aku tak kuasa menahan air mataku yang perlahan menetes.

“Dasar bodoh…” timpalku dengan nada sesenggukkan.

Kuturunkan badanku sedikit demi sedikit hingga kududuki rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar makam, lalu bersandar di pusaranya dan membiarkan lagi diriku terlarut dalam duka yang mendalam dan tanpa kusadari, aku terlelap di antara ratusan makam yang memenuhi area pemakaman yang cukup luas tersebut.

“Hei, Ricki! Ricki. Bangun. Sedang apa kau di sini?”

Tiba-tiba terdengar sebuah suara cukup mengejutkan yang datang dan membangunkanku. Lantas aku membuka mata sepatku perlahan.

“Bagaimana kau tahu aku di sini?” ujarku dengan wajah sedikit kebingungan. Ternyata Cathaoir yang baru saja membangunkanku, dan bukannya menjawab, ia malah bangkit dan mengarahkan pandangannya ke pusara, lalu membaca tulisan yang tertera di batu nisan tersebut. Kemudian ia menatapku.

“Ronan? Siapa?” tanyanya singkat. “Peduli untuk menjelaskan?” tanyanya lagi.

“Bukan siapa-siapa. Lagipula kau belum menjawab pertanyaanku.”

Aku berdiri dan menepuk bagian belakang celanaku yang penuh pasir dan rumput kering.

“Sudah berhari-hari batang hidungmu tidak kelihatan. Ke mana saja kau? Aku mengkhawatirkanmu tolol! Claire juga tidak berhentinya menanyakan tentangmu! Tadi aku datang ke rumahmu, tapi kau tidak ada di sana. Aku hanya bertemu adikmu dan dia bilang kau ke sini,” jelasnya panjang lebar.

Aneh. Aku tidak bilang apa-apa ke Conor. Bagaimana ia bisa tahu aku sedang berada di Dardistown?

“Ada apa sebenarnya? Siapa Ronan?” tanyanya.

“Aku temanmu, Ricki. Kasih tahu, dong,” katanya penuh rasa penasaran. Aku menghela nafas.

“Ronan… Dia temanku. Ia meninggal dua bulan lalu,” jawabku.

“Inikah yang telah membua… apa yang terjadi pa—maaf, aku tidak bermaksud…” katanya sedikit menyesal.

“Tak perlu. Ngomong-ngomong, ada kabar baru apa saja?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Oh, aku sebenarnya ingin menunjukkanmu sesuatu. Aku yakin kau akan menyukainya. Tapi tidak di sini,” jawabnya. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu jatuh di kepalaku. Tetesan-tetesan air. Kualihkan pandanganku ke arah langit yang perlahan berubah kelabu, sebentar lagi akan turun hujan.

“Kalau begitu ayo ke rumahku saja. Sudah mau hujan pula,” ajakku.

“Tidak juga. Kau harus datang ke kolese Senin besok. Aku tidak bilang aku akan memberitahumu, aku bilang aku akan menunjukkan- mu,” tolaknya.

“Baiklah,” kataku pelan, “kau yakin tidak mau memberitahuku?” Aku mencoba memastikannya.

“Sampai ketemu besok.” Ia tidak menjawab dan malah pergi menjauh. Dasar, aku bisa mencium rencananya untuk membawaku kembali ke kolese. Tapi Cathaoir benar juga, aku harus segera kembali secepatnya. Kulirik arlojiku.

“Ya ampun! Conor menungguku!” teriakku dalam hati. Aku segera berlari secepat mungkin sambil memikirkan sesuatu yang harus kubelikan untuk Conor. Ia pasti sudah sangat kelaparan. Buru-buru kunaiki bus menuju Swords yang baru saja tiba di pemberhentian bus di depan area pemakaman.

Sepanjang perjalanan aku memusatkan perhatianku ke kanan-kiri jalan dan berharap dapat menemukan kedai makanan atau restoran cepat saji yang buka. Aku menemukan satu! Aku segera turun dari bus, dan berjalan menuju sebuah kedai pizza yang baru saja kutemukan.

“Satu loyang Cajun Apache berukuran besar.”

“Satu loyang Cajun Apache berukuran besar. Dimakan di sini atau dibawa pulang, Tuan?” tanyanya.

“Dibawa pulang.”

Kulihat angka yang tertera di layar kecil di hadapanku. Aku mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan dari dompetku dan menyerahkannya kepadanya.

“Mohon ditunggu selama lima belas menit,” katanya, lalu ia memberikan uang kembalianku. Aku berjalan menuju kursi kosong di pojok ruangan dan menunggu pizzaku.

Tak berapa lama kemudian, seorang pria berseragam menghampiriku.

“Ini pizza Anda, Tuan,” katanya sopan.

“Terima kasih,” balasku. Aku segera beranjak keluar dari restoran tersebut, melanjutkan perjalananku pulang.

Tepat pukul satu siang, aku tiba di rumah. Kulepas sepatuku yang sedikit basah karena sempat kehujanan dan menaruhnya di jejeran rak sepatu. Sambil berjalan menuju meja makan, kupanggil Conor agar segera turun untuk makan siang bersamaku.

Tak butuh waktu lama, ia pun bergegas keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju dapur.

“Seperti yang telah kujanjikan, aku membawakanmu sesuatu,” sorakku, lalu mengambil dua buah piring dan beberapa minuman kaleng dingin dari lemari es dan kuletakkan di meja makan.

“Kuharap perutmu tidak keberatan untuk mencerna pizza hari ini.”

“Kau bercanda? Ini kesukaanku!” seru Conor lantang, sembari mengambil sepotong pizza di hadapannya dan meletakkannya di piringnya, lalu melahapnya.

“Tadi temanmu datang. Dia mencarimu,” ceritanya.

“Aku tahu. Aku bertemu dengannya di Pemakaman. Dari mana kau tahu aku tadi ke sana?” tanyaku sedikit penasaran. Conor mempercepat kunyahannya.

“Aku adikmu, bahkan!” candanya.

“Aku hanya mengira-ngira saja. Jangan kau kira aku masa bodoh dengan apa yang sedang kau alami saat ini. Lagipula kenapa kau tidak menceritakannya kepadaku tentang mantan kekasihmu itu? Aku juga merindukannya. Dia kan temanku juga,” tambahnya.

“Mantan kekasih kepala moyangmu. Memangnya kau tahu apa sih?” ujarku. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari pintu depan. Ma sudah pulang. Aku dan Conor memusatkan pandangan ke arah ruang tamu. Ma sedang melepas jaket ungunya yang sedikit basah dan lekas menghampiri kami.

“Ah, dua laki-laki tampan dan seloyang pizza,” sapanya frontal, salah satu ciri khas dari Ma yang aku suka. Aku berubah canggung seketika.

“Berita utama, Ricki keluar rumah hari ini,” celoteh Conor, disambut oleh tawa lepas Ma. Dasar bajingan kecil.

“Bagaimana keadaanmu hari ini, Ricki?” tanyanya. Ia menatapku hangat.

“Yah, tidak seburuk kemarin,” jawabku datar, “kau sendiri?”

“Saat ini? Pulang ke rumah dan menyaksikan ini semua? Tentu saja luar biasa,” ujar Ma antusias. Ia pergi menghampiri wastafel dan mencuci tangannya, lalu kembali dan duduk di sebelah Conor. Ia merampas sepotong pizza dari meja.

“Apa yang sedang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini?” tanya Ma lagi. Raut wajahnya berubah simpatik.

“Ya, ceritakanlah. Kau tidak harus menjalaninya sendiri,” ujar Conor.

“Lagipula aku rindu bermain bisbol denganmu.”

Kuletakkan pizza yang belum kuhabiskan di atas piringku dan menghentikan makanku sejenak. Aku menghela napas.

“Dia selalu tersenyum dan terlihat baik-baik saja… Maksudku, kau pasti ingat saat ia mengajakmu ke St James dan mengibur anak-anak pengidap kanker. Seorang ksatria sejati yang menjadi panutan banyak orang,” ceritaku.

“Seorang ksatria sejati yang mati konyol,” timpalnya.

“Maksudmu apa, anak kecil?!” seruku kesal.

“Dia, sebagaimana semua teman-temanmu, kan pecandu! Lagipula orang tuanya pun mengusirnya!” tambahnya lagi.

Aku geram bukan main mendengarnya.

“Cukup!” Ma mencoba melerai perselisihan kami. Napasku semakin cepat menahan amarah.

“Kau tidak tahu barang satupun tentang teman-temanku!” Aku membelasut. Kuselesaikan makanku secepat mungkin dan beranjak pergi.

“Aku tahu persis siapa mereka!” tanggapnya.

“Conor, henti⧿,”

“Diam kau! Aku seharusnya membiarkanmu kelaparan,” bentakku kasar. Aku benar-benar kehilangan kesabaranku. Conor pun diam dan memalingkan mukanya.

Kuredam emosiku sejenak.

“A-aku minta maaf,” sesalku. Conor tidak menjawab. Kupandang Ma selama beberapa detik dan meninggalkan mereka dalam keheningan. Dengan langkah gontai, kususuri anak tangga satu-persatu menuju kamarku.

Kubanting tubuhku ke atas ranjang. Aku masih tidak menyangka Conor dapat berbicara seperti itu tentang Ronan.

“Aku harap kau mengizinkanku masuk,” kata Ma yang sedang berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka. Aku tidak meresponnya.

“Aku sudah berbicara dengannya dan ia sangat menyesali perkataannya tadi,” katanya lagi. Lagi-lagi aku hanya diam.

“Ia hanya iri kau lebih banyak menghabiskan waktu dengan Ronan dan Seamus, dan bukan dengannya. Tanpa kita sadari, Conor kecil yang dulu kita kenal sedang beranjak dewasa. Ia sangat menjunjungmu. Kau satu-satunya figur laki-laki di keluarga ini, ingat?”

“Mereka teman-temanku, Ma! Kau pikir?!” jawabku sinis, “lagipula apa yang ia harapkan dari pemuda rusak sepertiku?”

“Wow,” katanya singkat. Aku tidak tahu apa yang ia maksud.

“Kau berbicara seperti itu seolah-olah aku gagal membesarkanmu. Baiklah… Mulai sekarang, uruslah semuanya sendiri! Pergilah, salahkan orang lain! Pergilah, jadilah orang brengsek, tunjukkan pada dunia dan buktikan semua orang salah, Ricki!” hardiknya kesal. Wajahnya memerah berbalut amarah dan napasnya kembang-kempis tak karuan. Aku terdiam lagi dan kali ini aku rasa aku pantas menerimanya. Ma memalingkan mukanya beberapa saat, lalu datang menghampiriku.

“Aku tak seharusnya berkata seperti itu. Maafkan—”

“Ini semua salahku,” aku menginterupsi sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.

“Dan bagian terburuknya adalah aku melakukan semua itu, Ma, dan bukan kejutan, di sinilah aku—terikat dan meronta-ronta,” aku menambahkan. Ma meneteskan air matanya, lalu ia memelukku erat.

“Maafkan aku,” ucapnya sedu sedan. Beberapa saat kemudian, ia melepas pelukannya.

“Maafkan aku kau pulang untuk ini,” balasku penuh penyesalan. Aku membiarkannya mengecup keningku.

“Lanjutkan makan siangmu. Aku membawa bacstaí1 siap saji lezat di bawah,” ajaknya. Aku menggangguk manis. Saat aku masih dibangku SD dulu, Ma sering membuat bacstaí untukku dan Conor di hari libur dan kami tak jarang berkelahi untuk mendapat bagian yang terakhir.

Di meja makan, kulihat Conor sedang sibuk mengunyah sepotong bacstaí yang Ma sebutkan tadi.

“Pergilah, ambil bagianmu, Tuan!” perintah Ma. Aku mengiyakan.

“Kau boleh memiliki potongan terakhir kali ini,” gurauku kepada Conor. Ia tersenyum kecil dan menatapku.

“Mencurigakan, namun kesepakatan yang bagus,” responnya segera. []


| Sharon Mehdi

Aku tidak meringis sama sekali ketika jarum transfusiku dilepaskan. Kejadian itu telah membuatku mati rasa, hatiku lumpuh. Belasan tahun aku mengenal Ibrahim dan mempercayainya, seorang pria agamis terdidik yang pernah mengatakan bahwa apapun penderitaan yang kita alami dalam hidup ini adalah tidak sia-sia, dan bahwa Allah memberikanku penyakit agar orang lain bisa memiliki kesempatan. Munafik.

“Sudah selesai, Nona,” Dokter itu tersenyum.

“Terima kasih,” balasku dengan nada datar.

“Kembali. Anda baik-baik saja, Nona?” tanya sang dokter. Tampaknya ia memperhatikan raut wajahku yang penuh amarah dan kekecewaan.

“Aku baik-baik saja. Sampai jumpa, dok,” jawabku.

“Baiklah. Semoga hari Anda menyenangkan, Nona,” katanya.

Lalu aku keluar dengan langkah tergesa-gesa sebelum ia sempat membalasnya. Aku hanya tidak mau orang-orang melihatku sebagai seorang wanita yang lemah. Sepanjang hidupku, detik demi detik kulalui dengan penuh perjuangan. Aku terbiasa berjuang sendiri.

Tiba-tiba ponselku berdering. Kuhentikan langkahku sejenak dan merogoh tasku. Di layar ponsel terdapat pemberitahuan bahwa aku memiliki satu panggilan tak terjawab dan dua surel baru, salah satunya dari Aliyah. Kududuki kursi di dekatku dan membuka surel tersebut. Tatapanku terpaku kepada isi surel yang dikirim Aliyah saat kubaca surel tersebut.

Tanggal: 19 Oktober 2013

Pengirim: Aliyah Talman (taliyah88@gmail.com)

Perihal: Te: Membentuk Masa Depan Perempuan Kamboja

Hai, mungkin kau akan tertarik dengan ini. Salam, Aliyah.

Apakah Anda memiliki keterampilan dalam bidang keperawatan, kebidanan, atau medis? Apakah Anda siap untuk petualangan yang menantang dan mengubah hidup? Biaya perjalanan Anda dari negara asal serta $200 + $50 per minggu untuk kebutuhan makam dan akomodasi akan ditanggung oleh penyelenggara.

Anda akan bekerja di desa-desa sekitar Phnom Penh dan provinsi-provinsi terdekat dengan dukungan dan pengawasan. Anda tidak akan diminta untuk melakukan apa yang membuat Anda tidak nyaman, tetapi keberanian dan kepedulian sangat diperlukan untuk petualangan ini. Anda bertanggung jawab untuk diri dan kesehatan Anda sendiri. Asuransi perjalanan adalah syarat wajib ketika bepergian di Asia.

Berhati-hatilah! Jika Anda mudah frustrasi dan tidak independen, maka ini bukan perjalanan untuk Anda! Kami beradaptasi dengan kehidupan desa. Anda mungkin memiliki waktu yang sangat produktif, atau mungkin ada gangguan dan frustrasi; Namun demikian itu akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan! Klik di sini untuk mengajukan permohonan.

Kududuki kursi di sebelahku. Kubuka tasku dan kukeluarkan sebuah komputer jinjing, lalu masuk ke akun surelku. Tanpa berpikir panjang, kuklik tautan tersebut dan segera mengisi formulir permohonan saat itu juga. Tekadku sudah bulat. Aku harus pergi jauh sejauh-jauhnya. Kota ini hanya akan mengingatkanku pada penderitaan menyakitkan yang aku tidak mau terlarut di dalamnya, dan ini mungkin satu-satunya caraku untuk melepaskan diri.

Kukirim formulir tersebut saat itu juga setelah kuisi dengan baik, lalu kutulis sebuah surel baru untuk Aliyah.

“Aku tertarik,” tulisku singkat. []


| Ricki Bradan

Dua puluh detik sudah Cathaoir menatapku tanpa berkedip barang sekalipun. Ia tertegun dan terkejut pada saat yang bersamaan, karena mungkin sudah terlalu lama aku telah meninggalkan kolese untuk hidup dalam ‘pengasingan’.

“Kau tampak berantakan sekali!” ucapnya dengan nada yang sengaja dikeraskan. Sial, beraninya dia mengatakan seperti itu di khalayak ramai. Aku mencoba untuk tidak mempedulikannya.

“Jadi itu yang selama ini kau ingin katakan? Percuma saja aku datang ke sini,” ujarku.

“Terima kasih telah membuang waktuku untuk hal yang sia-sia.”

“Hei, santai dong! Aku merindukanmu, bung!” sesalnya. Ia meraih pundakku dan menggiringku ke suatu tempat. Sepertinya aku tahu ke mana ia akan membawaku.

“Lihat, di sana,” perintah Cathaoir. Aku menoleh.

“Cukup! Aku pergi sekarang. Persetan denganmu!” bentakku setelah melihat Claire yang sedang berjalan ke arah Ruang 101. Aku mencoba pergi saat itu juga, namun ia menahanku.

“Ada apa denganmu?! Kau begitu sensitif! tunggu sebentar, bukan itu yang mau kuberitahu. Coba lihat ini,” katanya sambil menunjuk ke sebuah selebaran di papan pengumuman besar. Aku mendekati selebaran itu untuk membacanya dengan seksama.

“Jadi kau menyuruhku datang ke sini hanya untuk… ini?” tanyaku sambil menunjuk ke selebaran tersebut.

“Aku tahu kau benar-benar membutuhkannya. Salah satu cara untuk menolong dirimu sendiri adalah dengan menolong orang lain. Lagipula, sudah selalu menjadi mimpimu selama ini untuk keluar dari kota kecil sialan ini, bukan?” jawabnya.

Aku tidak meresponnya, malah berjalan menjauhinya.

“Hei, Ricki. Mau ke mana kau? Ricki! Tunggu!” Cathaoir mencoba menahanku. Lagi-lagi aku tidak meresponnya.

Aku mempercepat langkahku. Kemudian kuletakkan ranselku di lantai koridor yang sepi dan aku terduduk dengan tatapan kosong.

“Dengar, aku minta maaf.” Tiba-tiba terdengar suara Cathaoir.

“Tidak, akulah yang seharusnya minta maaf,” balasku. Lalu ia menghampiriku dan duduk di sebelahku.

“A-aku hanya benar-benar sangat lelah,” isakku sambil menyeka air mataku yang mulai menetes. “Aku telah bekerja sangat keras dan ini yang kudapat. Benar-benar menyakitkan, kau tahu?”

“Apanya yang menyakitkan?” tanyanya sedikit bingung.

“Tidakkah kau mengerti?! Aku tidak berguna! Bertahun-tahun kerja kerasku hanya menguap di udara begitu saja!” seruku. “Dan kau pikir menjadi relawan di sebuah negara dunia ketiga sebanding dengan Columbia?!”

“M-maks… Setelah selama ini? K-kau belum…” ujarnya sedikit terbata. Aku menggeleng kecil.

“Aku mengerti sekarang. Tapi tolong dengarkan aku sebentar. Aku mengerti betapa hancurnya perasaanmu dan berada di sini, terjebak di kolese sialan ini! Dan aku tahu tentang Roland. Kau telah kehilangan mimpimu dan sekarang, temanmu.”

“R-Ronan,” koreksiku. “Tidak, kau tidak menge—”

“Tetapi caramu merendahkan dirimu sendiri sudah keterlaluan, dan entah bagaimana sangat mengkhawatirkanku. Kau tahu, bukan kau saja yang kehilangan seorang teman sekarang. Aku kehilanganmu juga, dan itu sama menyakitkannya,” ujarnya, menginterupsi sebelum aku menyelesaikan kata-kataku.

Aku menarik nafas panjang dan berpikir. Untuk kesekian kalinya, Cathaoir benar, selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku telah mengabaikan orang-orang di sekitarku. Aku telah berubah menjadi seorang pemarah egosentris yang menyebalkan dan tidak tahu diri.

“Tidak, Kamboja tidak sebanding dengan apapun nama dari universitas sialan yang kau sebutkan itu. Tapi kau harus mencoba dan pergi ke sana, dan melihatnya. Ada waktunya kita merasa lelah, tak tahu arah dan tujuan yang jelas. Tapi aku juga ingin kau ingat betapa beruntungnya dirimu. Percayalah padaku. Aku akan membantumu menggalang dana,” tambahnya lagi.

Ia menatapku tajam.

“Tidak semua orang bisa kembali dan membuat awalan baru, tapi siapapun dapat memulai dari sekarang dan membuat akhir baru yang… kau tahu, tak kalah indahnya,” hiburnya.

“Apa yang terjadi beberapa tahun lalu, itu semua bukan salahmu. Jika saja dulu kau pergi ke New York, kita mungkin tidak akan pernah berteman, bukan?”

Aku tersenyum kecil.

“Trims, kawan. Kau benar-benar seorang teman yang baik dan aku sangat menghargai itu,” kataku singkat.

Ia merangkul dan mengguncang-guncang tubuhku pelan, kemudian menyodorkanku secarik kertas selebaran yang ia ambil dari papan pengumuman.

“Jadi, kapan kita bisa memulai menggalang dana?” tanyanya. Aku tidak menjawab pertanyaannya.

“Jika saja dulu aku pergi ke New York, seorang Cathaoir Keegan mungkin tidak akan pernah menjadi sebijak ini, bukan?” selorohku sambil menirukan gaya bicaranya.

“Aku tidak mau berkomentar. Ayo, aku temani kau untuk menemui Claire. Dia sangat merindukanmu,” ajaknya, lalu ia bangkit dan pergi. Aku berpikir sebentar, lalu mengiyakannya. Diam-diam aku merindukan- nya juga. Claire adalah seorang yang manis dan pintar. Aku harus mengakui bahwa aku agak naksir dengannya. Aku segera berdiri dan mengikuti ke mana Cathair pergi.

Beberapa saat kemudian, aku menemukan Claire sedang asyik membaca sebuah buku kecil yang berada di tangannya. Cathaoir mendesak punggungku, memberikan isyarat agar aku menghampirinya lebih dulu. Aku tak punya pilihan dan lekas berjalan mendekatinya.

“Hei, Claire, umm… Kau sedang sibuk?” tanyaku sedikit gugup mengawali pembicaraan. Claire menoleh ke arahku dan tersenyum.

“Ricki?! Ya Tuhan!”

Ia menaruh buku tersebut dan bangun dari tempat duduknya, kemudian memelukku erat. Aku sedikit canggung, namun kubiarkan ia memelukku barang sejenak. Kulihat Cathaoir yang datang dengan wajah polosnya, seakan-akan ia tidak mengetahui apapun.

“Kau sudah merasa lebih baik sekarang? Aku sangat merindukanmu!” tanya Claire setelah ia melepaskan pelukannya.

“Ya, aku merasa jauh lebih baik. Aku tahu aku memang bukan main menyebalkan akhir-akhir ini. Jadi, aku minta maaf,” jawabku penuh penyesalan.

“Yang terpenting adalah kau telah kembali ke kolese sekarang. Kami senang bisa berjumpa denganmu lagi,” kata Cathaoir menambahkan.

“A-aku ingin memberitahumu sesuatu,” kataku.

“Katakanlah,” reaksinya secepat kilat.

“Aku telah berbicara dengan Cath tentang hal ini dan kuharap kau juga akan mendukungku…” kataku lagi. Cathaoir menganggukkan kepalanya menegaskan. Raut wajah Claire berubah penasaran.

“—bahwa aku akan meninggalkan kolese, dan juga Dublin untuk, umm… beberapa tahun ke depan.”

“Untuk apa? Kau baru saja datang,” tanya Claire sedikit bingung. Aku merogoh saku celanaku untuk mengambil selebaran yang Cathair berikan tadi, lalu menyodorkannya ke Claire.

Aku menelan ludah sebelum aku berkata mantap, “Aku akan pergi ke Asia Tenggara, dan aku tidak tahu kapan aku akan kembali.” []


< Sebelumnya | Beranda | Selanjutnya >


1bacstaí (atau arán bocht tí dalam bahasa Irlandia yang berarti ‘roti rumah miskin’) adalah panekuk kentang tradisional Irlandia