2013: Desember

| Ricki Bradan

Cuaca dingin di Bandara Dublin sore hari ini benar-benar menusuk tulang bagi siapa saja yang berada di sini, termasuk aku. Dublin di bulan Desember benar-benar sebuah mimpi buruk. Namun tampaknya, aku akan benar-benar merindukannya. Hari ini akan menjadi hari musim dingin terakhirku hingga setidaknya delapan belas bulan ke depan. Aku berangkat menuju Kamboja, negara yang banyak orang menyebutnya ‘Negeri Keajaiban’, hari ini, dan seperti yang banyak orang bilang, setiap hari adalah musim panas di Asia Tenggara.

Perasaanku campur aduk. Aku merasa gembira, sedih, dan gugup pada saat yang bersamaan. Ini akan menjadi penerbangan jarak jauh pertamaku. Tidak peduli seberapa sering aku menaiki pesawat terbang, aku tidak pernah menyukainya. Berada di ketinggian lebih dari 30,000 kaki dan menembus awan selama berjam-jam membuatku gelisah, apalagi delapan belas jam. Namun di atas semua itu, aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Aku merasa lepas… seperti burung yang baru saja keluar dari sangkar besinya. Aku telah menghabiskan hidupku selama ini di Swords, namun itu akan berubah sebentar lagi.

Udara dingin yang kuhirup hari ini terasa jauh lebih menyegarkan dari biasanya. Cathaoir sangat membantuku untuk menggalang dana dengan ide-ide cemerlangnya. Kami tampil di kedai-kedai dan rumah minum, mengajar bahasa Jerman, hingga menjadi seorang tukang kebun keliling. Setidaknya kesibukan-kesibukan tersebut telah mengalihkan perhatianku untuk sementara waktu. Aku merasa jauh lebih baik, meskipun ‘jauh lebih baik’ masih jauh dari apa yang kuharapkan. Aku takut jika ini tidak akan berhasil dan aku hanya akan membuang waktuku. Aku takut suatu hari nanti, aku akan menyesali keputusanku ini. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa gembira akan ketakutanku karena rasa takut ini adalah pertanda baik. Aku bisa merasakannya. James pernah berkata, bahwa jalan yang sukar mengarah ke tujuan yang baik. Bicara soal si tolol James, dia pergi ke panti rehabilitasi dua minggu lalu. Aku sangat bangga padanya. Api dan hujan, ia telah melalui semuanya. Sedangkan Aoife masih belum diketahui kabar serta keberadaannya. Ma bilang ia sempat berbicara dengan Mr Connolly beberapa waktu lalu, ia benar-benar mengkhawatirkan anak perempuan satu-satunya. Kepergian Ronan tidak hanya mengubahku, tapi juga orang-orang di sekitarnya.

“Aku akan sangat merindukanmu, Richard,” kata Ma.

“Aku juga akan sangat merindukanmu,” balasku. Ma memelukku erat.

“Dan kau kepala jagung, jaga Ma baik-baik. Sampaikan salamku juga kepada teman-temanku, dan yang lainnya,” pesanku kepada Conor, lalu kupeluknya.

“Jaga dirimu baik-baik,” kata Conor.

Dari kejauhan, kulihat Cathaoir dan Claire melambaikan tangan mereka kepadaku. Kulambaikan tanganku dan tersenyum.

Perhatian… Perhatian… Pesawat udara Aer Lingus dengan nomor penerbangan EI172 tujuan London-Heathrow telah siap untuk diberangkatkan…” Terdengar suara seorang wanita melalui pengeras suara. Aku menghela nafas. Itu pesawatku. Kupeluk Ma sekali lagi, lalu pergi.

“Aku menyayangi kalian! Sampai jumpa…” []


Hampir sembilan belas jam sudah aku telah berada di dalam pesawat udara, dengan dua perhentian sementara selama beberapa jam di Bandara London—Heathrow, dan Bandara Internasional Hongkong, dan sekarang aku telah tiba di Bandara Pochentong di ibukota Phnom Penh. Pesawat udara yang kutumpangi sempat mengalami turbulensi yang cukup parah ketika akan mendarat di Hongkong karena cuaca buruk yang hampir saja memberikanku serangan jantung kecil.

Semua terlihat sangat berbeda di sini, dan yang paling jelas terasa adalah suhu udaranya yang bukan main lembab! Sekecil dan seringan apapun aku bergerak atau melakukan sesuatu, aku selalu berkeringat. Suara klakson mobil dan kendaraan bermotor lainnya yang luar biasa banyak jumlahnya membuat kota ini benar-benar hidup. Aku sangat menyukainya.

Sudah ada beberapa pria paruh baya yang kujumpai menawarkanku tumpangan dengan sebuah kendaraan unik yang mirip dengan sebuah kereta kuda, namun mereka menggunakan sebuah sepeda motor sebagai penggeraknya. Mereka menyebutnya ‘tuktuk’ dan mereka ada di mana-mana! Sepertinya taksi konvensional tidak begitu populer di sini.

“Halo! Anda m-mau pergi ke mana, Tuan?” tanya salah satu dari mereka dengan bahasa Inggris seadanya. Dari penampilannya, aku bisa menebak bahwa pria ini sudah renta. Aku sedikit tidak percaya bahwa pria setua ini masih harus bekerja keras untuk melangsungkan hidupnya. Di negara-negara yang disebut ‘dunia pertama’, ia saat ini mungkin sedang terduduk di sebuah rumah minum dengan segelas gin dan tonik di tangannya, meracaukan mumbo-jumbo sambil menikmati hidupnya sebagai seorang purnakaryawan. Kulambaikan tanganku dan menggeleng, bukan karena aku tidak mempercayainya. Aku hanya tidak kuasa. Aku berpikir sejenak. Belum genap 10 menit aku berada di sini, namun aku sudah mempelajari hal baru yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Kamboja memang benar-benar penuh kejutan dan masih banyak sekali hal yang harus kupelajari.

Bruuuuk… Lamunanku buyar ketika bahuku beradu dengan seorang bocah belasan tahun yang sedang berjalan berlawanan arah denganku. Bocah tersebut sempat kehilangan keseimbangan, namun tidak sampai terjatuh. Sedangkan aku hampir tidak bergeser barang sedikitpun. Mungkin karena tubuhnya sedikit kurus dan tingginya sekitar 30 sentimeter lebih pendek dariku. Ia menggenggam pergelangan tangan kiriku beberapa saat untuk memperoleh kontrol akan keseimbangannya, lalu mempercepat langkahnya tanpa menoleh sebelum aku bisa meminta maaf kepadanya.

“Sedang mencari tuktuk?”

Terdengar suara seorang wanita dari belakangku. Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke sumber suara tersebut. Kulihat seorang perempuan berparas ketimur-tengahan yang mengenakan kerudung hitam sedang tersenyum kepadaku. Ia jelas bukan orang sini.

“Eh, sepertinya,” jawabku singkat.

“Kudengar tarifnya akan jauh lebih terjangkau jika kita berbagi tumpangan. Kau hendak ke mana?” Ia mencoba meyakinkanku.

“Ide bagus. Aku akan pergi ke sini,” kataku sambil memperlihatkan selembar kertas berisikan petunjuk arah menuju Pusat Pembinaan Masyarakat yang aku unduh dari situs peta daring.

“Ah, aku beruntung sekali. Tujuan kita benar-benar searah! Aku rasa aku akan turun beberapa kilometer lebih dulu,” serunya penuh semangat. Aku mengiyakan. Ia merampas kertas tersebut dari tanganku, kemudian ia menghampiri seorang pengemudi tuktuk muda di seberang jalan dan berbicara kepadanya. Aku senang aku tidak akan sendiri. Setidaknya aku akan memiliki teman berbicara sepanjang perjalanan. Dan kendati aksen Timur Tengahnya terdengar cukup jelas, bahasa Inggrisnya sangat lancar dan mudah dimengerti.

“Hei, jangkung! Ayo naik!” teriak perempuan itu dari kejauhan. Aku tertawa mendengarnya memanggilku ‘jangkung’, lalu berlari kecil menghampirinya. Tuktuk tersebut pun mulai bergerak begitu kami menaikinya. Semilir angin mulai terasa ketika kendaraan itu mulai melaju kencang menyusuri jalan-jalan berdebu di kota seribu kelenteng ini. Ia lalu mengembalikan kertas milikku yang sempat ia rampas secara tiba-tiba.

Satu hal yang unik dari negara ini yang kuperhatikan sejak tadi— sepeda motor, mereka tidak hanya mendominasi, namun juga merajai jalanan! Sepertinya peraturan lalu lintas tidak benar-benar berlaku di sini.

Di tengah perjalanan, aku memberanikan diri untuk berbicara kepada perempuan di hadapanku.

“Maaf, kau seorang Muslim? Siapa namamu?” tanyaku setengah berteriak karena suara bising yang diciptakan mesin cukup keras. Aku harap ia tidak tersinggung dengan pertanyaanku tadi.

“Yep, semoga kau tidak keberatan. Namaku Sharon. Aku dari Mesir,” jawabnya ramah.

“Dan kau, Tuan Jangkung, siapa namamu?”

“Richard. Kau bisa memanggilku Ricki. Aku datang dari Republik Irlandia. Tentu tidak. Aku sama sekali tidak keberatan,” kataku.

“Kelihatannya kau sudah lama di sini.”

Sharon tertawa ringan. Kerudung hitamnya melambai tertiup angin.

“Kau mungkin tidak akan mempercayainya, tapi ini adalah kali pertamaku. Aku bahkan tidak tahu Phnom Penh adalah pusat pemerintahan negara ini, yang telah membuatku membuang lebih banyak waktu di perjalanan yang cukup membosankan,” jelasnya.

“Tunggu… K-kau baru mendarat di sini juga?” tanyaku setengah tidak percaya.

“Aku tiba kemarin siang di Siem Reap. Ceritanya panjang dan tidak menarik. Poinnya, aku juga hanya seorang pendatang baru sepertimu,” jawabnya sedikit mengeluh.

“Apa yang membuatmu pergi ke sini? Berpelesirkah?” tanyanya.

Aku menjernihkan tenggorokanku.

“Um… Aku seorang sukarelawan,” jawabku. “Kau?”

“Aku seorang juru rawat,” jelasnya antusias.

“Ibuku, dia juga seorang juru rawat. Kau pasti orang yang cerdas dan mandiri,” Aku menanggapi sekenanya. Sharon tersipu kecil. Aku tak berbohong, Sharon memang terlihat cendekia seperti seseorang yang khulki.

Dua puluh lima menit telah berlalu. Sharon memanggil si pengemudi, menyuruhnya untuk menepi di depan sebuah bangunan dua lantai bercat putih yang sepertinya merupakan sebuah balai medis atau sejenisnya. Aku masih sedikit tidak percaya dengan apa yang ia katakan beberapa saat lalu bahwa ia baru saja tiba di sini untuk yang pertama kalinya. Bagaimana bisa ia berkomunikasi secara lancar dan cukup efisien dengan penduduk setempat? Namun aku tidak mempermasalahkannya. Mungkin ia benar-benar telah mempersiapkan segalanya, seperti mempelajari bahasa Khmer dan yang lainnya, sebelum ia tiba di sini.

Tuktuk pun berhenti tepat di depan bangunan tersebut. Aku sedikit lega karena suara bising yang diciptakan mesin mulai berkurang dan aku bisa berbicara dan mendengar seperti biasa.

“Aku akan turun di sini. Tarif tuktuknya delapan dolar Amerika,” pamitnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari ranselnya, tampaknya sebuah dompet, lalu memberikan beberapa lembar uang kepada si pengemudi.

“Dolar Amerika? Berapa tarifnya dalam riel?” tanyaku kepadanya. Aku baru tahu bahwa ternyata dolar Amerika Serikat juga diterima sebagai alat pembayaran yang sah di sini, selain riel Kamboja. Aku sadar kali ini aku memang tidak memiliki persiapan sama sekali.

“Tak perlu khawatir. Kau tidak perlu membayar sepeserpun. Mungkin di lain kesempatan, kau bisa membayarku kembali. Senang bertemu denganmu, jangkung… maksudku Ricki,” katanya. Aku mulai terbiasa dengan sebutan tersebut. Sebelum ia bergegas pergi, aku merogoh tas punggungku dan mengeluarkan selembar kartu namaku.

“Sharon, tunggu,” seruku. Ia menoleh seketika.

“Aku ingin kita tetap berkomunikasi satu sama lain, yah?” Kuberikan kartu nama tersebut kepadanya. Ia mengambilnya dan lekas membacanya.

“Kau seorang garib, eh?” guraunya. Sekedar informasi, itu adalah kartu namaku sewaktu aku bekerja paruh waktu sebagai seorang desainer grafis di sebuah perusahaan periklanan kecil di Dunleary.

“Aku hanya bercanda, bung,” ucapnya. Oh, percayalah. Aku telah mendengarnya berulang kali. Batinku dalam hati.

“Kartu nama itu berusia dua tahun. Tapi alamat surelku masih berfungsi. Sampai jumpa!”

“Daah!” balasnya. Ia melambaikan tangannya dan pergi. Si pengemudi pun mempercepat kendaraannya kembali dan perlahan, bangunan tersebut mulai hilang dari pandanganku, tergantikan dengan padang rumput kering dan beberapa gubuk reyot di kanan-kiri jalan. Aku akan tiba di tempat tujuanku dalam beberapa menit.

Kurapikan kembali tas punggungku yang masih sedikit terbuka. Kulirik arloji di lengan kiriku dan sepintas kejanggalan mulai terjadi—arlojiku tidak ada di sana! Kuperiksa tas punggungku kembali, berharap aku telah meletakkan arloji tersebut di dalamnya. Kujangkau kedua sisinya dan lagi-lagi aku menyadari sesuatu—dompetku juga sama lenyapnya. []


<< Sebelumnya | Beranda | Selanjutnya >>