2013: Agustus

| Sharon Mehdi

Aku meringis saat dokter melepas jarum transfusi dari lengan kiriku. Ini adalah saat yang paling aku benci, transfusi darah. Aku lega hal ini sudah berakhir, dan sekarang aku bisa pulang dan menikmati akhir pekanku beristirahat. Aku bangkit dan tersenyum kepada pria separuh baya tersebut, ia membalas senyumku sambil membersihkan bercak darah yang tersisa dari transfusi.

Aku Sharon, seorang perawat di salah satu rumah sakit umum di Kairo. Aku adalah seorang Muslim dan aku bangga akan hal itu. Sebagai seorang Muslim, hijab sudah menjadi bagian dalam hidupku. Siapa saja yang memiliki masalah dengan hal itu harus paham bahwa tidak ada paksaan sama sekali bagiku untuk mengenakannya dan menurutku, hijab itu sendiri melambangkan kehormatan, proteksi, dan keteguhan iman seorang wanita.

Sejak lahir aku telah menderita thalasemia, sebuah kelainan darah yang diturunkan secara genetis melalui hubungan keluarga, di mana tubuh memproduksi bentuk abnormal dari hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen. Ya, kedua orang tuaku adalah pembawa thalasemia beta. Orang-orang yang hidup dengan thalasemia harus melakukan transfusi darah seumur hidupnya, frekuensinya tergantung dari jenis dan tingkat keparahannya. Dalam kasusku misalnya, tiga minggu sekali. Aku tidak pernah menyalahkan mereka karena aku yakin betul Allah memberikanku ‘kelebihan’ ini sebagai bukti kemahaadilan-Nya; bahwa tidak seorangpun di dunia ini yang sempurna.

“Hampir selesai,” kata dokter tersebut.

Hampir? Setahuku prosedur transfusi darah hari ini sudah kujalani sepenuhnya.

“Apakah saya melupakan sesuatu?” tanyaku penuh rasa penasaran.

“Tidak ada, Nona. Hanya satu hal lagi, dan semuanya akan selesai,” jawabnya sedikit misterius. Lalu ia berjalan menuju lemari putih di pojok ruangan dan mengambil sesuatu.

“Buket bunga mawar yang indah dari Tuan Ibrahim Sayegh untuk mengakhiri transfusi hari ini,” ujar sang dokter penuh semangat. Ia memberikan buket bunga tersebut kepadaku. Aku terkejut dan terdiam sesaat. Aku benar-benar tidak menduganya sebelumnya. Ibrahim memang pria yang penuh kejutan.

“Aku tak bisa berkata apa-apa. Bunga-bunga ini, mereka sangat manis! Terima kasih!” sorakku dengan senang hati. Ada secarik surat kecil di tangkai-tangkainya. Kupandang wajah sang dokter, ia menganggukkan kepalanya, menginstruksikanku untuk segera membukanya. Kubuka surat tersebut perlahan.

Mawar itu merah, violet itu biru. Semoga harimu cerah, dan kau senantiasa sehat selalu. Aku tidak sabar untuk makan malam kita nanti. Peluk cium, IS.

Aku sumringah membacakan isi surat tersebut.

“Anda benar-benar seorang wanita yang beruntung, Nona,” puji sang dokter. Senyumku semakin melebar.

“Aku tahu,” balasku singkat.

Aku bergegas keluar dari ruangan itu, lalu pergi menuju farmasi di lantai dasar untuk menebus obat-obatanku.

Sambil menunggu, kukeluarkan sebuah buku berjudul Life After Life karangan Kate Atkinson yang bercerita tentang Ursula Todd, anak ketiga dari seorang bankir Inggris yang kaya raya, yang lahir dan meninggal berulang kali dalam berbagai cara. Buku yang unik.

Antrian nomor 023,” seru suara sang apoteker. Seorang wanita berambut cokelat keemasan berdiri dan menghampiri sang apoteker. Ia sepertinya sedang hamil tua.

“─apakah Anda memiliki asuransi, Nyonya?

Tidak ada. Aku membawa ini.”

Wanita tersebut mengeluarkan sebuah kartu debit dari dompetnya.

Baiklah. Penebusan obat-obatan untuk Nyonya Malika… gunakan…”

Aku mencoba mencuri-dengar pembicaraan mereka dari kejauhan sambil sesekali membolak-balikkan halaman buku yang sedang kubaca.

“─atas nama Ibrahim Sayegh, benar?

Detak jantungku terhenti seketika begitu mendengar nama itu. Kupusatkan perhatianku lebih seksama.

Usia kehamilan Anda semakin… daftarkan diri untuk program asuransi merupakan ide bagus…”

Terdengar suara sang apoteker yang samar-samar sedang memberi saran kepada wanita tersebut. Dia hanya mengangguk dan memaksakan senyumnya. Kemudian ia pergi keluar.

Sebelum ia mencapai pintu kaca otomatis, aku terlebih dahulu menghampirinya.

“Maaf, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanyaku sedikit terbata-bata. “Apakah kau sedang terburu-buru?”

“Silakan,” jawab wanita itu dengan wajah agak bingung. Suasana berubah canggung seketika. Aku masih terus memikirkan bagaimana aku bisa memecah kebekuan ini.

“Oh, Sharon,” kataku memperkenalkan diri.

“Malika.” balasnya.

“Apa yang ingin kau tanyakan tadi?”

Aku lupa untuk mempersiapkan pertanyaan apapun untuknya.

“Umm… Sebenarnya tidak begitu penting. Hanya beberapa hal tentang kehamilan dan entah apa.”

“Baik, katakanlah.”

“Saat ini ak─” Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, tiba-tiba ponsel Malika tersebut berbunyi.

“Maaf,” ujarnya. Lalu ia asyik berbicara dengan si penelepon dan aku hanya bisa menunggu dengan berpura-pura membaca buku yang masih berada di tanganku.

Beberapa saat kemudian, ia mengakhiri panggilan tersebut.

“Aku minta maaf. Sampai di mana kita tadi?” sesalnya.

“Umm… Aku t-tidak tahu. Lupakan saja,” tukasku.

“Yang baru saja menelepon itu suamimu?”

Aku membombardirnya dengan segudang pertanyaan. Rasa penasaranku semakin tak terbendung. Aku tak bisa berbasa-basi lebih lama lagi. Aku bisa melihat Malika mulai merasa tidak nyaman.

“Ya, um… dia adalah seorang kepala cabang lokal di sebuah perusahaan telekomunikasi,” jelasnya. Perasaanku semakin tidak enak dibuatnya. Itu terdengar tidak asing bagiku.

“Kalau boleh tahu, siapa namanya?” tanyaku untuk yang kesekian kalinya. Malika menjawabnya dengan sederhana.

“Ibrahim. Ibrahim Sayegh.”

Bruuukk… Buku yang sedari tadi kupegang erat jatuh secara tiba-tiba tanpa disengaja. Seketika kedua tanganku berubah lemas. Hatiku hancur berkeping-keping sesaat setelah mendengar nama tersebut untuk kedua kalinya. Ini sungguh terlalu nyata untuk menjadi sebuah kebetulan.

“Kau baik-baik saja, Sharon?” tanya Malika. Aku menganggukkan kepalaku tanpa mengeluarkan sepatah katapun, lalu membungkukkan badanku untuk mengambil buku tersebut di lantai. Rahangku terlalu kaku untuk bisa mengucapkan sesuatu.

“Aku harus pergi,” pamitnya.

“S-sampai jumpa di lain waktu,” jawabku. Kutoreh senyuman di wajahku. Ia melambaikan tangannya dan pergi menjauh melalui pintu kaca otomatis. Aku tidak membalasnya.

Antrian nomor 026…” []

Waktu telah menunjukkan pukul tujuh lebih delapan menit. Wajahku masih sedikit basah selepas menjalankan sholat maghrib. Sebentar lagi Ibrahim akan datang untuk makan malam denganku. Biar bagaimanapun, aku harus tetap berpikir positif tentangnya dan berharap bahwa itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Yah, tidak ada ruginya untuk terus berharap.

Tepat pukul 7:30 malam, aku mendengar suara mobilnya yang sedang diparkirkan di depan rumahku. Kemudian aku menggiringnya masuk menuju ruang tengah untuk memulai makan malam romantis kami.

“Bagaimana kunjungan dokter dan transfusi hari ini?” tanyanya mengawali pembicaraan.

“Harum,” jawabku misterius.

“Transfusiku berjalan dengan baik dan harum.”

Ia menghentikan makannya sejenak.

“Maksudmu?” tanyanya lagi. Ia melanjutkan makannya yang sempat tertunda sesaat.

Mawar itu merah, violet itu biru…” Aku melafalkan puisi yang ia tulis di secarik surat yang ia kirim beserta buket bunga mawar. Ia tertawa renyah tanda mengerti.

“Trims, sayang,” kataku singkat.

“Bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanyaku. Pelan-pelan, Sharon. Kau akan segera tiba di sana. Aku mencoba menenangkan diriku agar tidak ceplas-ceplos. Aku tidak boleh terlalu lantang dan terpancing.

“Tidak,” candanya. “Tentu saja, sayang.”

“Dan kau akan menjawabnya dengan jujur, bukan?” tambahku.

“Aku akan selalu jujur padamu.”

“Tadi saat aku mengantri di apotek, aku bertemu dengan seorang wanita yang sedang hamil tua bernama Malika. Dia selalu menyebutkan namamu. Apakah kau tahu sesuatu tentangnya?”

Aku tidak percaya aku telah mengatakannya.

Ibrahim terdiam selama beberapa saat. Tubuhku mulai gemetar, namun aku harus bisa mengendalikan emosiku.

“Sharon, maafkan aku…”

“Kau bilang kau akan selalu jujur padaku.”

Suasana di ruangan berubah hening.

“Sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku selalu melihat sosok seorang pria misterius penuh kejutan di dalam dirimu,” ceritaku dengan nada dingin.

“Dan ini mungkin kejutan sialan terbesar yang pernah kau berikan kepadaku.”

Ibrahim memberanikan diri untuk berbicara.

“A-aku menikahinya lima bulan lalu,” akunya datar.

“Kau pikir itu semua penting bagiku?!”

Emosiku pecah seketika. Dadaku kembang-kempis tak karuan. Jantungku terasa remuk.

“Lantas apa yang harusku lakukan?!” serunya.

“Apa kau bodoh?! Seharusnya kau menemaninya malam ini! Dia sedang hamil tua!” seruku.

“Aku mau kau pergi dari sini sekarang juga.” Aku mengusirnya. Ibrahim mencoba mendekapku, namun aku mengelak. “Pergilah.”

“Maafkan aku,” bisiknya lirih, lalu ia keluar. Aku hanya duduk terdiam menyaksikannya pergi.

Pandanganku kosong menatap sepiring makanan di hadapanku yang hampir tak tersentuh. Belasan tahun yang kulalui bersamanya telah hancur dan hendam-karam begitu saja. Sang dokter benar, aku memang seorang wanita yang ‘beruntung’. Aku merengus dalam hati.

Dengan gundah, aku berusaha bangkit dan berjalan menuju saluran telepon. Air mataku mulai berjatuhan dari pipiku saat kutekan tombol-tombolnya.

Halo?” Terdengar suara seorang perempuan yang tersambung melalui telepon.

“A-aliyah…” sapaku. Aku terisak sejadi-jadinya.

Masyallah, Sharon! Kau baik-baik saja?!” []


< Sebelumnya | Beranda | Selanjutnya >