1 Malaikat Maut

Jalan yang sukar menuntun ke tujuan yang indah. Danya merasa kalimat tersebut tidak seharusnya berhenti sampai di situ saja. Jalan yang sukar menuntun ke tujuan yang indah, jika semesta menghendaki. Ia tahu persis bagaimana rasanya diiming-imingi harapan dan dikhianati oleh semesta yang tidak pernah sekalipun berpihak padanya.

Hari ini ia genap berusia delapan belas tahun. Tepat di hadapannya terdapat sebuah kue bundar sederhana berhiaskan sepasang lilin yang apinya menari-nari terhela napasnya. Ia tertegun memandangi cahaya api tersebut. Terngiang di pikirannya suara nyaring Tuan Demochko, guru fisikanya, yang pernah mengatakan bahwa segala bentuk energi berasal dari embrio alam semesta yang berukuran lebih kecil dari sebuah biji zarah, sebelum akhirnya meledak 13,7 milyar tahun yang lalu. Sungguh malang nasib si api, batinnya. Energi yang membentuknya telah menempuh perjalanan jutaan tahun cahaya dan melewati milyaran peristiwa sebelum ia berakhir di sebuah kue ulang tahun.

Ada dua hal serupa tentang api tersebut dan dirinya. Pertama, mereka berdua tercipta dari energi yang berasal dari ledakan besar. Kedua, Danya merasa hidupnya sia-sia. Ia seperti berlari di sebuah lingkaran dan mencari sudutnya. Sepanjang hidup ia habiskan waktunya berjuang dalam pertempuran, kendati pun itu tidak menjadi lebih baik. Entah sampai kapan ia harus berpura-pura tangguh dan baginya, harapan hanya memperpanjang penderitaan sialan yang tak berarti.

“Kau sudah membuat keinginan?” Terdengar suara pelan di telinga kanan Danya. Lamunannya buyar seketika.

“Hei, umm… belum,” jawabnya canggung. Perempuan itu tersenyum. Namanya Nastya, seorang gadis yang manis dan pandai. Usianya setahun lebih muda darinya. Ia telah menyukainya sejak lama, namun belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.

“Pejamkan matamu sekarang,” perintah Nastya. Danya memejamkan matanya selama beberapa detik, lalu ia buka kembali.

“Apa keinginanmu barusan?” tanya Nastya penasaran.

“Bukan apa-apa. Aku hanya berharap kuenya lebih besar,” ia menjawab sekenanya. Sebenarnya ia tidak membuat keinginan apapun.

“Sayang sekali, hanya ini yang aku bisa berikan untukmu,” ucap Nastya., lalu menyodorkan sebuah kotak bertuliskan Untuk Danya.

“Kau tidak perlu—” Belum sempat Danya menyelesaikan kalimatnya, Nastya mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya. Ia tidak bergerak barang satu μm pun. Tubuhnya terdiam mematung, hanya jantungnya yang berdetak kian kencangnya. Itu adalah empat detik terpanjang dalam hidupnya.

“Kecupan pertama?” Untuk kedua kalinya, Nastya berhasil menginterupsi imajinasi liarnya.

“Tidak juga,” jawab Danya singkat. Tentu saja ia berbohong. Ia belum pernah mencium atau dicium sebelumnya, namun ia berpikir seorang pengecut sepertinya juga harus punya harga diri di depan seorang gadis cantik, bukan?

“Oh, boleh kubuka sekarang?” tanyanya mencoba memecah kecanggungan. Nastya menggangguk antusias. Dibukanya kotak keemasan tersebut perlahan dan ia menemukan sebuah buku di dalamnya.

Terapi Seni Anti-Stres untuk Orang Sibuk?” Danya membaca judul buku tersebut yang ternyata adalah sebuah buku mewarnai. “Dari mana kau mendapatkan buku semacam ini?”

“Aku harap kau menyukainya,” jawab Nastya.

“Aku sangat menyukainya! Trims,” serunya, sambil sesekali membolak-balikkan halaman demi halaman dari buku tersebut. Kali ini ia berkata jujur. Seingatnya, terakhir kali ia memiliki buku mewarnai adalah saat usianya masih tujuh tahun. Ini akan mengasyikkan, serunya dalam hati.

“Kalian benar-benar di luar dugaan. Lihatlah,” kata Danya lagi, kemudian ia tunjukkan sebuah botol air berwarna hijau zamrud.

“Nikita, ia tahu aku baru saja kehilangan botol minumku. Sungguh bermanfaat,” jelasnya. Akhir-akhir ini ia begitu mudah mengalami dehidrasi. Diambilnya sebuah kotak musik hitam dari tumpukan hadiah di meja dan lekas membukanya. Terdengar Himne Federasi Rusia yang terputar otomatis.

“Biar kutebak. Masha?” terka Nastya.

“Ya,” angguk Danya, “patriotik, bukan?” ucapnya dengan nada sarkastis. Nastya hanya tertawa kecil mendengarnya. Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Danya dapat melihat dua pasang kaki yang sedang berjalan ke arah kami dan semakin mendekat.

“Oh, pangeran-pangeran kecilku!” Nastya beranjak dari kursi dan menyambut ramah dua bocah yang sedang berdiri di hadapannya. Mereka adalah Kyrill dan Pasha, adik-adik Danya. Pasha berusia tiga belas tahun dan memiliki postur tubuh yang jauh lebih besar dari Kyrill, yang baru saja merayakan ulang tahun kedelapannya bulan lalu.

Beberapa saat kemudian, Kyrill menghampiri Danya dan berusaha duduk di pangkuannya.

“Selamat ulang tahun, Danya. Aku sangat menyayangimu,” ucap Kyrill. Danya meleleh menatap wajah tanpa dosanya yang menatapnya dalam. Dipeluknya tubuh kurus Kyrill seerat-eratnya dan ia kecup rambutnya yang berwarna kecoklatan. Ia meraih pula kepala Pasha dan segera mengacak-acak rambutnya. Pasha tidak menghindar.

“Siapa yang membawa kalian ke sini?” tanya Danya.

“Ibu. Dia hanya menurunkan kami di sini, lalu bergegas pergi menuju Komandor,” jawab Pasha. Danya mengangguk tanda mengerti.

“Ini untukmu. Aku dan Pasha menggambarnya sendiri,” ujar Kyrill sambil menunjukkan sebuah gambar memanjang yang ia pegang sejak tadi. Danya mengambil gambar tersebut dan memandangnya dengan saksama. Terdapat empat orang figur laki-laki, masing-masing memiliki nama, dan seekor burung yang sedang hinggap di sebuah dahan dan berkata, ‘kami menyayangimu’.

“Kalian semua memang yang terbaik,” puji Danya. Ia memandang Pasha yang tersenyum manis. Pasha adalah adiknya sepenuhnya. Orangtua mereka berpisah saat usianya belum menginjak dua tahun dan ibu mendapatkan hak asuhnya, sedangkan Danya tinggal bersama ayahnya, pria yang berada di sisi paling kanan pada lukisan. Beberapa bulan kemudian, ibu menikah lagi dengan seorang pria yang sekarang adalah ayah dari Kyrill. Meskipun Kyrill hanyalah adik tiri Danya, ia sangat menyayangi keduanya melebihi apapun. Ia bersyukur karena ayah dan ibu masih menjalin hubungan kekerabatan hingga saat ini sehingga ia tidak perlu kehilangan barang seorang pun, walau terkadang ayah suka berulah dan menjengkelkan, pikirnya. Ia tidak pernah menyesali apa yang terjadi kepada mereka karena seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usianya, ia semakin belajar dan mengerti bahwa segala sesuatu tidaklah sesederhana apa yang ia pikirkan.

“Kau sangat berbakat, Kyrill! Suatu saat nanti, aku yakin kau dan Danya akan menjadi seniman hebat bersaudara atau semacamnya,” puji Nastya. Kyrill sedikit tersipu mendengarnya dan tidak mengatakan apapun.

“Kami mengadakan sesi melukis bersama besok pagi di alam terbuka. Ikutlah jika kau tertarik dan memiliki waktu luang, Nikita juga akan ada di sana,” ajak Danya antusias.

“Itu akan sangat menyenangkan,” Kyrill meyakinkan.

“Kita bisa bermain kartu jika melukis membuatmu bosan,” Pasha menambahkan. Ia tidak begitu tertarik dengan melukis atau dunia seni secara umum. Nastya menggambarkan ekspresi aneh di raut wajahnya, lalu melirik arloji di tangan kirinya.

“Aku harus pergi sekarang,” pamitnya.

“Baiklah, berang-berang kecil. Bisakah kalian memberi kami waktu sebentar?”

Danya memberi aba-aba kepada keduanya untuk pergi ke ruang tamu. Mereka segera beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Danya dan Nastya berdua.

“Terima kasih telah datang dan turut merayakan… dan juga buku ini,” ujar Danya.

“Dengan senang hati. Ngomong-ngomong, yang tadi itu, aku tidak bermaksud apa-apa, hanya refleks stimulus yang, uhm, kau tahu…” jelas Nastya. Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Ya, aku mengerti. Refleks stimulus,” jawab Danya datar, lalu ia antar Nastya menuju lorong depan. Nastya lekas mengenakan jaket berwarna ungu miliknya dan mengencangkan ikatan di sepatunya, lalu beranjak keluar dari apartemen. Danya memperhatikan langkah demi langkahnya seiring ia berjalan menjauh dan menghilang ditelan alat pengangkut.


< Beranda | Selanjutnya >